Ibu Ihsaan

Sea World, tempat asyik mengenalkan hewan laut pada si Kecil

Di penghujung tahun 2017, saya dan keluarga memutuskan untuk wisata ke Sea World. Awalnya sih destinasi yang dituju adalah Jakarta Aquarium, namun dikarenakan satu dan lain hal, akhirnya kami berlabuh di Taman Impian Jaya Ancol. Kenapa tujuan wisata kami bertemakan laut? Saya mengajukan pada Ayah Ihsaan agar wisata kali ini tidak hanya jalan-jalan tapi EDUWISATA. Ada unsur pendidikannya. Duh, gaya bener ya ibu ihsaan ini.
Continue reading “Sea World, tempat asyik mengenalkan hewan laut pada si Kecil”

Advertisements
Ibu Ihsaan

Permainan Tradisional yang Populer saat itu

Berbicara permainan tradisional selalu mengajak pikiran saya bernostalgia ke masa lalu era 90-an sampai era milenium (alias tahun 2000an). Kalau diingat banyak sekali permainan tradisional yang sering saya mainkan. Apa saja itu?

1. Susulumputan (a.k.a petak umpet)

Permainan ini emang tiada duanya. Siapa yang tidak suka dengan permainan ini? Meskipun Ihsaan belum paham dengan aturan permainan ini. Tapi, petak umpet akan selalu membuat dia ketagihan bermain. Yah, asal ibu ga bosan saja berakting “cari-cari Ihsaan” ๐Ÿ˜ Padahal sang anak bersembunyi di balik tirai atau tempat yang mudah sekali ditemukan

2. Galasin

Mungkin di daerah lain disebut gobak sodor. Permainan ini biasanya dimainkan 6-10 anak yang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang berjaga akan menjaga wilayahnya supaya tidak dibobol masuk oleh kelompok lawan. Uniknya, pemain yang nerjaga hanya boleh bergerak di lintasan garis yang tersedia. Tapiiii…kalau tangannya panjang, bisa dijadikan alat supaya kelompok lawan dikalahkan. Hmmm…cara mengalahkannya sederhana kok yaitu asal tubuh pemain lawan ketoel alias kecolek, pemain tersebut dinyatakam gugur. Pada dasarnya, kunci keberhasilan untuk permainan ini adalah gesit dan pintar ambil peluang. Lawan meleng, saatnya menyusup. Wuussshh….

3. Lompat tali

Ada perasaan amazing deh, ketima mengingat waktu dulu saya bisa melompat setinggi badan teman saya yang bertugas jaga (memegang tali karet). Kalau sekarang? Hmm…ragu deh. Lalu, gerakan-gerakan di permainan ini saya bisa sangat lincah. Benang merah permainan ini adalah tantangan semakin lama semakin sulit. Padahal awalnya dari selutut sampai seubun-ubun. ๐Ÿ˜

4. Congklak

Di daerah lain, ada yang menyebutnya dengan nama dakon. Saya sering bermain ini dengan teteh-teteh saya. Tapi kita sering kalah ya ceu @ellie.a.pearce terus kelamaan nunggu giliran kalau teh ina main. Kunci keberhasilan permainan ini adalah strategi dan musti pinter ngitung dan memprediksi alur permainan. Hehe ๐Ÿ˜ Main congklak ini ampuh banget untuk mengalihkan rasa lapar menunggu bedug maghrib. Eitts,, mustinya ngabuburit itu tadarrus ya. Duh, tobat.

5. Sondah

Di daerah lain disebut apa ya? Engklek sepertinya.

Permainan ini sangat seru. Tanda kita mendapat giliran adalah dengan melempar pecahan genting atau kulit pisang. Paling sebel deh kalau kotak yang mau dilewatin sudah ada yang punya (booked). Ini perlu jurus meringankan badan supaya bisa loncat jauuuuh.

6. Bebentengan

Saya ga yakin apa di daerah lain sering dimainkan atau tidak. Permainan ini membagi sejumlah anak menjadi 2 kelompok. Anggota kelompok yang berhasil katowel (tersentuh) oleh anggota kelompok lawan maka akan ditahan. Anggota yang ditahan tersebut dapat bebas jika dijemput di benteng kelompok lawan. Main permainan ini bisa bikin kita basah kuyup dengan keringat (dan langsing ๐Ÿ˜‚).

7. Cubit-cubitan

Saya tidak tahu persis apa nama dari permainan ini. Tapi yang pasti permainan ini punta soundtrack. Yuk bernyanyi bersama!

๐ŸŽถ Paciwit-ciwit lutung si lutung pindag ka luhur๐ŸŽถ

Terus saling cubit punggung tangan yang ada di bawah tangan kita sampai dengan tangan kita lebih tinggi, lebih, dan lebih tinggi lagi. ๐Ÿ˜ฒ

Masih ada yang terlewat ga ya?๐Ÿค” Kalau kamu, apa permainan tradisional masa kecilmu?

#ceritaHijrah10
#HijrahParenting
#30harimenulis
#ceritahijrah_mainantradisional

Cerita Ihsaan, Ibu Ihsaan

Jangan berkata “Seandainya…”!

Perihal bermalam di rumah sakit, Ihsaan sudah beberapa kali masuk. Bahkan suster hingga cleaning service yang bertugas saja sudah mengenali wajah kami. Sejak Ihsaan terakhir di opname awal Desember tahun lalu, saya bertekad untuk menghidarkan Ihsaan dari faktor pencetus yaitu debu. Ihsaan saya biarkan untuk bermain di luar, main hujan-hujanan, main kotor, tapi saya usahakan tidak bermain yang berdebu yang kemungkinan besar terhirup.
.
Qadarullah beberapa hari lalu, tanpa sepengetahuan saya Ihsaan bermain bedak tabur dengan saudaranya.
.
“Ihsaaaaan, kamu dimana?” Teriak saya mencari Ihsaan setelah selesai meng-ASI-hi Kun waktu itu. Terkejut saya ketika melihat wajah, kepala dan baju Ihsaan cemong dengan bedak. Saya tertawa melihat Ihsaan yang tampaknya memang senang saat itu. “Wah, Ihsaan itu apa?”
Lalu dia pun menjawab “Bedak teteh rere..yeyeye…” Sambil joget-joget.
.
Lekas saya mengajak Ihsaan untuk mencuci muka dan saya mandikan. Saya berdo’a semoga tidak ada bedak yang terhirup. Alhamdulillah Ihsaan tidak batuk atau sesak nafas. Namun, ternyata keesokan harinya Ihsaan mulai batuk-batuk, suaranya jadi serak dan malamnya demam tinggi. Saya sudah berikan paracetamol, obat batuk namun ternyata demam Ihsaan tidak reda juga dan cenderung meningkat. Saya langsung pergi ke RS karena Ihsaan ada riwayat kejang juga. Awalnya saya hanya berniat untuk rawat jalan, qadarullah Ihsaan harus dirawat inap.

Khadimat yang bekerja di rumah berkata bahwa dia tidak tahu bahwa Ihsaan main bedak saat itu, karena dia juga sedang masak. Dia mengatakan “coba ya teh ga main bedak.” Rasanya saya juga ingin mengiyakan, tapi saya harus segera tepis pikiran itu. Seorang mukmin dilarang berkata “Seandainya…” apabila digunakan untuk menentang takdir Allah.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

โ€œMukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: โ€˜Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.โ€™ Akan tetapi hendaklah kau katakan: โ€˜Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.โ€™ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.โ€ (HR. Muslim)

Mohon doanya semoga Ihsaan lekas sembuh. Aamiin yaa robbal ‘alamiin.

Bahan bacaan:
Sumber : https://rumaysho.com/693-jangan-berkata-seandainya.html

#CeritaHijrah03 #HijrahParenting #30HariMenulis

Pillow talk, Review Ibu Ihsaan

Tips Mengelola Uang Keluarga ala Ibu Ihsaan

Beda dapur beda resep
Beda rumah tangga beda pula aturan main

Kali ini yang akan menjadi benang merah dari tulisan saya adalah mengenai GAJI. Ada rumah tangga yang menerapkan “gajiku untukku dan gajimu untukku” alias gaji sang istri murni untuk sang istri, perihal pengeluaran apapun selama berumah tangga adalah dari suami. Ada juga yang menerapkan “gajiku untukku dan gajimu untukmu”, semua pengeluaran istri baik di luar maupun dalam rumah adalah beban istri, sang suami berlepas dari tanggung jawab menafkahi urusan dapur istri (termasuk urusan makan di rumah) karena dinilai sang istri mampu membiayai kebutuhannya sendiri. Jujur untuk kategori ini saya sedih mendengarkan ceritanya dari orang-orang terdekat saya. ๐Ÿ˜ญ (Skip dulu ya cerita ini)

Lalu, bagaimana dengan rumah tangga saya dan suami??

Continue reading “Tips Mengelola Uang Keluarga ala Ibu Ihsaan”

Buatan Ibu Ihsaan

Fu Yung Hai: carbo, protein dan serat jadi satu


Saat awal menikah, kemampuan masak saya bisa dibilang tiarap banget. Sekarang sih kategorinya udah agak naik, tapi masih kelas merangkak. ๐Ÿ˜ Kilas balik saat awal menikah ketika saya masih menyandang status karyawan,  rutinitas sarapan dilakukan di mobil. Suami nyetir, saya suapin. Duh, so sweet banget ya. Hmmm..tapi menunya itu ga jauh-jauh dari telor ceplok, tempe atau tahu goreng, paling the best itu nugget. ๐Ÿ˜…

Bagaimana dengan menu makan malam? Alhamdulillah menunya beda dari sarapan. ๐Ÿ˜ Apa itu? Fu Yung Hai.
Fu yung hai menjadi menu andalan bagi saya. Berasa keren aja karena kayaknya fu yung hai buatan saya itu tiada duanya. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜  Resep fuyunghai diperoleh dari hasil tebak-tebakan. Jaman kuliah, saya suka ngintipin si ibu yang jualan fuyunghai. Emang udah langganan dan dekat kostan juga. Kurang lebih begini resepnya.๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

Bahan (3 porsi):

1 tahu putih ukuran besar (potong dadu kecil)

3 batang bawang daun(iris tipis)

3 butir telur

3 buah wortel (potong dadu kecil)

3 sdm tepung terigu

Minyak goreng

Saus:

2 sdm saus sambal

1/2 siung bawang Bombay (iris tipis)

2 siung bawang putih (cacah)

1 sdm tepung maizena

300 ml air

Secukupnya kecap manis

Lada bubuk
Cara pembuatan:

1. Goreng tahu sampai kering bagian luarnya namun tetap kenyal. Sisihkan

2. Tumis setengah matang wortel. Sisihkan.

3. Campurkan tahu yang sudah digoreng, wortel yang sudah ditumis, telur dan bawang daun dan tepung terigu. Aduk hingga rata.

4. Panaskan minyak goreng dengan api sedang, kemudian masak adonan fuyunghai sampai warna kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan.

5. Tumis bawang bombay dan bawang putih, setelah harum masukkan air yang sudah dicampur dengan maizena, saus sambal, sedikit kecap manis dan lada bubuk. Kemudian aduk hingga mengental. 

6. Sajikan dan selamat menikmati. 
Saus bisa langsung disiram atau disajikan secara terpisah alias buat dicocol. Dua versi tersebut sama-sama nikmat. Minus nya kalau disiram langsung, sensasi kriuk fuyunghai jadi hilang. Selamat mencoba ya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Menu ini juga jadi alternatif biar si kakang ihsaan mau makan tahu. Tekstur nya yang kenyel-kenyel dan garing, jadi ga terlalu terasa tahunya. Ini juga bisa jadi alternatif buat si kecil yang kurang suka sayur. ๐Ÿ˜Š

Buatan Ibu Ihsaan

BoSuMy (a.k.a Bola Sukun Yummy)

BoSuMy (dibaca BoSuMi bukan Bosumai ๐Ÿ˜„) Di sebelah rumah ada pohon sukun yang lebat buahnya. Alhamdulillah. 
Biasanya sukun ini dikukus terus digoreng, paling hebat itu resepnya dikukus, diungkep bumbu kuning terus digoreng. Dan bentuknya ga jauh-jauh dari iris tipis kayak potongan semangka. 

Nah, tetiba ide masuk ke cerobong ibu (ahahaha…efek keseringan nonton film thomas), “Gimana kalo dibuat kayak bola ubi?
Kepikiran mau dijadiin bola ubi kopong gitu, tapi baking powder nya ga ada, yang ada itu baking soda. ๐Ÿ˜ (Sisa eksperimen science bareng ihsaan). Yasudah pakai semua bahan kayak bola ubi tapi BPnya diskip.

Ini dia resep BoSuMy alias Bola Sukun Yummy

Bahan:

1/2 butir buah sukun ukuran sedang 

2 sdm Tepung Tapioka

2 sdm Tepung Maizena

1 sdm Tepung Terigu (kata suami sih buat ngiket sama biar agak ngembang ๐Ÿ˜…)

Gula merah yang disisir (untuk isian)
Cara pembuatan:

1. Kukus sukun sampai empuk, kemudian haluskan menggunakan sendok (atau ulekan juga boleh)

2. Tambahkan tapioka, maizena dan tepung terigu ke dalam sukun yang sudah dihaluskan

3. Aduk dan uleni sampai kalis

4. Bentuk adonan menjadi bola-bola seukuran lebih besar dari kelereng dan beri isian gula merah. Lumayan ini lho ngerjainnya, tapi ibu dibantuin ponakan sih @tiarapw_12

5. Goreng adonan pada api sedang, goyang goyang terus selama di penggorengan supaya ga meletus (kejadian soalnya ๐Ÿ˜)

6. Angkat dan nikmati selagi hangat. 

Sensai kopong nya dapet juga ternyata. Alhamdulillah. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

Buatan Ibu Ihsaan

Kolak Pisang Biji Salak

Minggu kemarin, ponakan dengan keluarganya (a.k.a keluarga kakak ipar) jalan-jalan ke puncak, Bogor. Alhamdulillah dibawain oleh-oleh talas bogor, pisang tanduk sama tape singkong. Berhubung talas bogor masih binun mau diapain. Jadilah yang dieksekusi duluan pisang sama tapenya. 
Biasanya tape singkong main digabung aja sama pisang dijadiin kolak. Tapi suka bikin kuahnya lebih berasa asam dan jadi berantakan. Dan ibu lagi seneng bikin bola-bola. Yaudah, dijadiin aja biji salak. Jadilah camilan ihsaan sebelum bobo siang adalah kolak pisang biji salak.

Apa aja bahannya dan gimana cara buatnya? Ini dia ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

Continue reading “Kolak Pisang Biji Salak”

Review Ibu Ihsaan

Setiap perjalanan kehamilan itu spesial

Dari rahim yang sama, perjalanan kehamilan bisa beda cerita. Ya, ternyata itu memang benar. Kilas balik pada saat hamil ihsaan, bisa dibilang ga ada mabok parah (seingat saya hanya di minggu ke 9&10), dan sisanya ga mabok makanya bisa naik berat badan sampai 17 kg. ๐Ÿค Dan saat hamil Ihsaan, saya menganggap bahwa Ihsaan adalah partner berjuang yang handal. Saat saya harus menyelesaikan tesis dimulai dari survey ke lapangan, mengolah data sampai menulis, ihsaan di dalam kandungan begitu pengertian. Dan banyak juga target yang bisa saya capai. Memang ada sedikit drama ketika menjelang melahirkan, jari-jari tangan kebas kemudian menyusul kaki bengkak akhirnya hadir. Aktivitas yang dilakukan repetitive berupa ngetik-ngetik cantik, jari-jari tangan saya tetiba kebas. Awalnya tangan kanan, kemudian tangan kiri. Istilah kedokterannya disebut Carpal Tunnel Syndrome. 

Ibu hamil itu bukan orang sakit

Seringkali pernyataan tersebut menjadi pegangan saya ketika banyak yang berkomentar”Wah, enak ya hamilnya ga pake mabok parah.” Kehamilan pertama sewaktu mengandung Ihsaan bisa dikatakan mulus tanpa hambatan. Mabok sewajarnya, aktivitas bisa jalan terus, malah banyak target yang bisa saya capai. Jadi, bedrest yang harus dialami oleh beberapa teman saya memang tidak pernah terlintas. 
Namun, tenyata cerita berbeda pada kehamilan saat ini. Di usia kandungan 35-36 minggu saya harus masuk rumah sakit untuk rawat inap, karena mengalami kontraksi yang tinggi. Sebenarnya, kontraksi berupa perut kencang dan sakit di bagian vagina sudah beberapa kali saya rasakan namun tidak terlalu saya ambil pusing. Saya pikir itu palingan karena saya capek. Qadarullah, pada tanggal 30 September 2017 sehabis menjemput suami di bandara, akhirnya saya harus dirawat inap. Awalnya kepergian kami ke rumah sakit memang untuk cek kandungan rutin, dan setelah CTG saya dinyatakan harus dirawat. 

Sempat terlintas dalam pikiran “Coba tadi ga CTG, kan ga bakal dirawat. Toh dari kemarin juga udah sering kayak gini.” Astaghfirullah. ๐Ÿ˜ž๐Ÿ˜ž  Saya kesal karena ga jadi quality time dengan suami yang pada saat itu kami sedang LDM-an alias Long Distance Marriage. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Hikmahnya adalah setiap kehamilan akan punya ceritanya sendiri. Dan tulisan ini untuk mengenangnya.

P.S: Pssstt….ternyata pengelolaan emosi pada saat hamil berpengaruh juga lho pada karakter bayi. Dan ini terlihat nyata pada Ihsaan dan Kun (sudah cukup banyak yang berkomentar senada). Apa itu?

Nantikan postingan selanjutnya ya ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

Pillow talk, Review Ibu Ihsaan

Kun

Pertanyaan apa yang lazim muncul ketika ada berita seseorang melahirkan? Ada yang mau bantu menyebutkan?

Kebanyakan pertanyaan berkutat pada jenis kelaminnya apa dan namanya siapa? Hmm…tapi belakangan ini beberapa ada yang bertanya “SC atau Normal”.

Pertanyaan tentang jenis kelamin dan bagaimana proses persalinan bisa dengan mantap saya jawab di hari H saya melahirkan, tapi tidak untuk nama. Saya dan suami masih belum sepakat perihal nama. Semua nama yang saya ajukan ditolak oleh suami, dengan alasan “Jangan dari huruf A ya bu!” ๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค” Lantas siapa ya nama anak kami?

Pertanyaan itu makin menjadi di hari kedua, terlebih dari keluarga saya. Suami pun semakin khusyuk memikirkan perihal ini. Hingga akhirnya pada hari Minggu malam suami menyampaikan usulan nama untuk saya setujui. KUN.

“Apa? Kun? Kok Kun sih yah?” Saat itu saya merasa nama itu ga keren, kok KUN sih. Kan bisa nama lainnya yang lebih gimana gitu. Suami pun menjelaskan kenapa dia memilih nama KUN. Beliau terinspirasi dari ayat Al-Quran “kun fayakun” yang artinya jadilah! maka terjadilah ia.

 Anak kedua kami lahir dengan begitu mudah. Lahir di Bidan. Suatu skenario yang tidak kami pikirkan sama sekali. Dari awal masa kehamilan, saya dan suami berpikir bahwa saya akan melahirkan di Rumah Sakit. titik. Tidak ada pemikiran bahwa saya akan melahirkan di rumah bersalin atau bidan. Memutuskan melahirkan di Bidan tidak cukup sederhana bagi saya. Sebelum akhirnya saya memutuskan dan meminta izin pada suami untuk melahirkan di Bidan, pikiran saya dihantui bagaimana kalau saya atau bayi saya mengalami kondisi medis yang genting? Saya kemudian teringat ujaran dari dosen saya yang menyarankan agar melahirkan di RS sebagai bentuk ikhtiar apabila kondisi gawat darurat. Pikiran saya juga dilintasi oleh bayangan wajah almarhumah kakak kelas saya yang meninggal karena tidak cepat mendapatkan penanganan medis ketika melahirkan di Bidan. Ada rasa takut mati hinggap di pikiran saya. Hingga akhirnya saya disadarkan bahwa kematian itu dekat dan bisa datang dengan cara yang tidak bisa sama sekali diprediksi. Siapa yang menjamin melahirkan di RS kita akan selamat ketika Allah menggariskan takdir mati? Saya pun istighfar dan memutuskan untuk lanjut dengan keputusan saya untuk melahirkan di Bidan.

Kembali lagi ke pemilihan nama Kun. Kun  menjadi do’a bagi saya dan suami agar anak kami kelak menjadi seorang yang optimis dan selalu mengingat bahwa Allah bersama prasangka hamba-Nya. Tidak ada yang bisa menghalangi ketika Allah sudah berkehendak. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Allah menciptakan segala sesuatu dengan kun, maka jadilah. Kurang lebih filosofinya seperti itu. Semoga yang baca bisa ikut memahami ya. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰

Nama lengkap Kun

Dua kata di belakang Kun terpilihlah nama Abdullah dan Kusumah. Saya menyetujui nama Kun ketika suami menyampaikan bahwa kelanjutan namanya adalah Abdullah. Dalam hadits disebutkan,
Dari Ibnu โ€˜Umar, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฃูŽุณู’ู…ูŽุงุฆููƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู

โ€œSesungguhnya nama kalian yang paling dicintai di sisi Allah adalah โ€˜Abdullah dan โ€˜Abdurrahman.โ€(HR. Muslim no. 2132)

Pada artikel rumaysho.com diuraikan mengapa nama Abdullah dan Abdurrahman memiliki keunggulan, antara lain:

๐ŸŒธNama ini mengandung sifat penghambaan yang khusus antara hamba dan Allah dibanding dengan nama-nama (yang bersandar pada asmaul husna) lainnya. Karena nama โ€˜Abdullah mengandung sifat ubudiyah (penghambaan dalam ibadah) dan ini hanya ada kaitannya antara Allah dan hamba. Begitu pula nama โ€˜Abdurrahman mengandung sifat ubudiyah (penghambaan) karena sifat Ar Rahman adalah sifat rahmat yang khusus antara hamba dan Allah.

๐ŸŒธNama berupa penghambaan yang terdapat dalam kedua nama tersebut dikhususkan dalam Al Qurโ€™an dari nama-nama terbaik lainnya. Semisal dapat ayat-ayat berikut,

ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุงู…ูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฏู’ุนููˆู‡ู ูƒูŽุงุฏููˆุง ูŠูŽูƒููˆู†ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู„ูุจูŽุฏู‹ุง

โ€œDan bahwasanya tatkala Abdullah (yaitu hamba Allah, Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.โ€ (QS. Al Jin: 19)

๐ŸŒธNabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memberi nama pada anak pamannya (Al โ€˜Abbas) dengan nama Abdullah.

๐ŸŒธSekitar 300 sahabat Nabi memiliki nama Abdullah.

Begitu banyaknya keunggulan dalam nama Abdullah, ga mungkin saya untuk tidak menyetujuinya.

Semoga apa yang menjadi do’a kami dalam rangkaian namanya diijabah oleh Allah swt. Aamiin yaa robbal alamiin.

Cerita Ihsaan, Ibu Ihsaan

โ€‹Ihsaan Resmi menjadi Sang Akang

Alhamdulillah hari Jum’at yang lalu (27 Oktober 2017) tepatnya pukul 00:53 WIB, saya melahirkan anak kedua dengan jenis  kelamin laki-laki. Dengan lahirnya sang adik, secara resmi Ihsaan di usia 28 bulan menjadi seorang kakak dan ingin dipanggil “Akang”.

Banyak beberapa teman yang bertanya tentang bagaimana reaksi ihsaan saat tahu akan ada adik bayi yang lahir.

Continue reading “โ€‹Ihsaan Resmi menjadi Sang Akang”