Ibu Ihsaan

​Merindu Medan (part 1)

Siapa sangka, saya yang belum pernah merantau sama sekali ke luar pulau Jawa malah sangat betah di perantauan. Alhamdulillah, Allah berikan kesempatan kepada keluarga saya untuk merasakan warnanya hidup di perantauan.

Tepat hari pertama bulan Ramadhan tahun 2016, saya dan Ihsaan pergi merantau ke Medan. Ayah ihsaan sudah satu bulan sebelumnya tinggal disana, beliau dimutasi penugasan kerja di Medan.
2 minggu pertama ,saya dan keluarga menghabiskan waktu di hotel. Hmmm…selain karena memang kami dapat jatah hotel menginap dari perusahaan, juga karena Ayah Ihsaan belum menemukan tempat tinggal yang pas (lebih tepatnya yang sreg di hati saya 😁).
Alhamdulillah, setelah kesana kemari, di detik-detik terakhir menjelang jatah menginap di hotel habis, akhirnya kami menemukan rumah yang “pas”. Awalnya sih ragu, karena kriteria yang kami buat tidak terpenuhi. Seperti adanya fasilitas umum berupa masjid dan mushola, dan lingkungan muslim. Qadarullah, Allah menjodohkan rumah kontrakan yang sebaliknya. Kami mengambil hikmah bahwa ini cara Allah untuk mengenalkan keberagaman warna dalam hidup.

Banyak yang heran dan bertanya, kok bisa saya betah di Medan?
Banyak yang menyarankan sebelum keputusan saya ikut membersamai suami di Medan adalah untuk tetap tinggal di Tangerang. Toh, suami pun harus pergi ke luar kota secara rutin, karena cakupan wilayah yang dia kelola tidak hanya Sumatera Utara melainkan Sumatera bagian Utara mulai dari Aceh hingga Batam. Dan untuk menempuh perjalanan ke provinsi tersebut harus transit di Jakarta. Jadi peluang mengunjungi saya dan Ihsaan di Tangerang sebenarnya besar. Tapi saya keukeuh untuk tetap pergi ke Medan. Saya mending merantau daripada LDMan. Belum siap secara lahir dan batin. πŸ˜‚

Apa saja sih yang membuat saya betah di Medan?


Family time
lebih banyak

Hal yang paling membuat saya merasa senang adalah quality time antara saya, suami dan ihsaan jauuuuh lebih banyak. Ketika kami tinggal di Tangerang, family time itu hanya Sabtu dan Minggu. Itupun Sabtu tidak bisa sepenuhnya dihabiskan. Ayah Ihsaan masih terlalu letih karena perjalanan pulang kantor di Jumat Malam. Terbayang kan Friday Night in Jakarta? Belum lagi kalau sudah End of Month, bagi divisi sales itu jadi detik-detik terakhir kejar target yang artinya akan lembur dan pulang malam. Hiks…

Sedangkan ketika di Medan, quality time Ayah dan Ihsaan hampir selalu ada setiap hari. Pagi hari, Ayah bisa meluangkan waktu untuk bermain atau memandikan ihsaan bahkan sarapan bersama Ihsaan. Begitupun di malam hari sepulang Ayah bekerja, Ihsaan bisa diajak bermain atau dibacakan buku cerita oleh ayahnya. Waktu yang tersedia dimanfaatkan lebih efisien karena jarak dan waktu tempuh dari rumah ke kantor sangat dekat dengan waktu tempuh paling lama 10 menit. Kecuali kalau Ayah harus ke kantor distributor, itu bisa memakan waktu 1 jam. Tapi ini masih jauh lebih baik ketimbang daily routine dari Tangerang ke Jakarta yang bisa menghabiskan 2-2.5 jam di jalan raya. 😐😐😐

Kuliner Medan yang Beragam dan Durian

Memang benar kata orang-orang bahwa jangan lewatkan kuliner di Medan. Harga makanan di Medan juga terbilang standard. Dan yang paling menyenangkan adalah durian yang murce alias murah cekali. Kalaupun persediaan durian sedang tidak banyak, harganya ga sampai tembus ratusan ribu. Bagi keluarga kami pecinta Durian, Medan bak surga bagi kami. Hihihi…

Alhamdulillah sebelum kepergian saya dan Ihsaan dari Medan, kami masih bisa menikmati musim durian di Medan yang artinya  harga durian murah. Jadi bisa mmmborooong deh. 😁😁

Oh iya, beberapa kuliner medan yang pernah saya kunjungi bisa dibaca di postingan saya yang lainnya(klik disini ya)

Bahan Makanan Segar

Saat di Medan, saya banyak mengalami improvisasi dalam hal masak memasak #benerincelemek 😁 .  Suami saya yang memang sedikit pemilih dalam hal kategori ikan, sangat dimanjakan dengan pilihan ikan laut yang beragam. Mulailah saya mengenal resep gulai ikan, ikan balado, steam ikan dan beberapa resep lainnya. Walaupun kebanyakan itu semua hasil searching di cookpad. 😁

Selain itu, sayuran dan buah-buahannya kualitas wahid. Ketika di Jawa kalau memilih alpukat itu musti dilihat – diraba -diterawang, sepertinya kalau di Medan ini pilih alpukat bisa sambil merem deh. Saking semuanya bagus. Alhamdulillah. Dan buah-buahan lainnya seperti jeruk juga ga perlu dipertanyakan lagi. Jeruk berastagi udah teruji. Buah apalagi ya? Ya, pisang barangan juga wahid. Anak mencret? Udah deh kasih pisang barangan, InsyaAllah mampet. DSA (dokter spesialis anak) ihsaan saja sampai kasih resep ini, bukannya obat.

Sahabat adminah HSMN Medan tersayang

Berawal dari antisipasi saya yang ga mau kuper alias kurang pergaulan di Medan, saya mulai cari-cari komunitas di Instagram. Sewaktu di Tangerang saya ikut gabung dengan mahmudstangerang. Jadi ya kurang lebih saya butuh komunitas seperti itu. Qadarullah saat saya cari di pencarian instagram, saya ditakdirkan mengenal mba Nisa yang saat itu posting tentang acara Serambi (acara berbagi dengan anak yatim) dan ternyata itulah awal pertama kali saya mengenal HSMN Medan.

Selanjutnya, bagaimana saya bisa bergabung dengan HSMN Medan?
Ibu yang punya kontrakan yang saya tempati itu ternyata bergabung dengan komunitas HSMN dan beliau menyampaikan kalau mau daftar bisa menghubungi Mba Indria. Eh ternyata doi itu koordinator wilayah Medan. Orang pertama yang saya kenal di Medan di luar temen kuliah saya adalah Mba Ind (sapaan untuk mamaknya qolbi). Kami berdua tergabung dalam komunitas Rumah Main Anak dan orang yang memberikan informasi tentang rumah kontrakan pun dari Mba Ind. Jazakillah khayr mba ind sayang.

Lho kok sekarang bisa jadi bagian adminah Medan?
Waktu itu teh Neneng menyapa saya di Masjid Al-Jihad. “Mba fuji, bisa ga jadi PJ wilayah untuk mobile kindergarten wilayah Medan Selayang dan sekitarnya.”
Duh dalam hati saya, kok mendadak begini. Akhirnya ya saya jawab bahwa saya perlu minta izin pada suami terlebih dahulu. Dan alhamdulillah suami berikan lampu hijau. Selain saya juga bisa dapat teman, Ihsaan juga bisa punya banyak teman juga.

Kalau cerita tentang betapa terpautnya hati ini pada para adminah, rasanya masih perlu satu posting lagi untuk menguraikannya. 😘

Ditunggu ya lanjutannya di sequel Merindu Medan (part 2)

Salam hangat,

Ibu Ihsaan
Sukabumi, 15 October 2017

Advertisements
Ibu Ihsaan

Ihsaan Berkisah

Tadi malam, ibu menawarkan Ihsaan dua buah buku untuk dipilih mana yang akan dibacakan, dan pilihan Ihsaan jatuh pada buku cerita tentang nabi. 

Dalam buku seri ini terdiri dari cerita tentang nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Ismail, Nabi Ayyub, Nabi Ya’qub dan Nabi Ishaq. Namun, ibu baru menceritakan sampai dengan Nabi Ismail. Setiap kisah nabi, ibu akan mengulang sampai dengan 3 kali bercerita. Kenapa? Agar Ihsaan lebih menangkap apa yang Ibu ceritakan dan hitung-hitung review apakah cerita Ibu berkesan dan ditangkap oleh Ihsaan. Dan tenyata…. alhamdulillah iya.

Pada kisah Nabi Ibrahim, dia akan meminta untuk dibukakan lembaran bacaan ketika patung-patung berhala berantakan setelah dihancurkan Nabi Ibrahim guna menyadarkan penduduk Babilonia bahwa patung-patung itu tidak memberi manfaat sekalipun. Namun, ketika Ihsaan berkisah jalan ceritanya menjadi begitu berbeda. 😐 *tarik nafas dulu…

“Bapak, awas! Geser geser! Nanti patungnya jatuh! Sakit!”

Begitupun dengan kisah nabi lainnya.

Sebelum bercerita, ibu memberikan clue tentang siapa nabi yang akan ibu kisahkan (karena ini sudah pengulangan 😊). 

“Ibu mau bercerita tentang nabi yang ketika ditinggalkan oleh ayahnya di padang pasir kehausan. Nabi siapa ya?? Nabi is….”

“Mail…” Sambung ihsaan.

Cerita masih berjalan mulus ketika ibu bercerita bahwa nabi ismail adalah anak Nabi Ibrahim. Dan ismail dilahirkan ketika Nabi Ibrahim sudah tua yaitu ketika berusia 86 tahun. Ibu lanjutkan bahwa nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk membawa Ismail dan ibunya ke Makkah yang saat itu masih berupa lembah yang gersang dan tandus. Padang pasir itu sangat panas, begitu cerita ibu. Dan reaksi Ihsaan adalah menyentuh gambar padang pasir sambil berkomentar “Uh, panas ibu!” Lalu sambil mengarahkan Ibu untuk ikut menyentuh gambar padang pasir. Terus berulang beberapa kali. Lalu, ibu lanjutkan cerita bahwa sesampainya disana Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan Ismail dan Siti Hajar padahal perbekalan mereka sedikit. Tapi Nabi Ibrahim dan Siti Hajar yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka. Ketika perbekalan Hajar dan Ismail habis dan sudah tidak ada air yang bisa diminum. Ismail menangis karena kehausan.
Lanjut Ihsaan berkisah,

πŸ‘¦: “Oaaaa…Oaaaaa…! Ibu! Ihsaan beli  ya!

I: *bingung* beli apa?

πŸ‘¦: “Beli minum buat nabi.”

I: *nelen ludah* “tapi ihsaan ga bisa beliin, ihsaan ceritanya ga ada disini.” 

Sepertinya penjelasan ibu sia-sia karena Ihsaan bersikukuh mau belikan minum buat nabi. Buktinya? Doi sampai mau bangun dari kasur buat pergi. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Ibu coba alihkan dengan cepat-cepat membuka lembaran selanjutnya yaitu ketika Hajar  menemukan sumber air di dekat Ismail setelah sebelumnya pergi dari Shafa ke Marwah sebanyak 7 kali. Ihsaan kemudian menyentuh gambar sambil berkomentar “Air bu! Hiiih…dingin!” Sambil berpura-pura menggigil. πŸ˜€πŸ˜€ Gitu aja terus. Heuheu…

Masih tentang kisah Nabi Ismail yaitu ketika Nabi Ibrahim mengunjungi anaknya (Nabi Ismail). Namun, ketika itu Nabi Ismail sedang tidak berada di rumah dan Nabi Ibrahim hanya menemui istri Nabi Ismail. Adegan ini ditunjukkan dengan gambar istri Nabi Ismail yang berada di balik pintu. 

Maksud hati Ibu sembari mengajarkan adab bertamu, Ibu ajak Ihsaan untuk pura-pura mengetuk pintu pada lembaran tersebut. Namun, kisah jadi berbelok tentang Nabi Luth. 

“Luth! Buka Luth!” teriak Ihsaan 

Dan itu berulang Ihsaan lakukan meskipun Ibu sudah bilang kalau ini cerita tentang Nabi Ibrahim yang mengunjungi rumah Nabi Ismail bukan tentang Nabi Luth. Namun, sepertinya kisah ketika penduduk Sadum mengetuk pintu rumah Nabi Luth yang saat itu sedang dikunjungi beberapa pria tampan (yang sebenarnya adalah jelmaan malaikat yang menyampaikan tentang datangnya adzab bagi penduduk Sadum) begitu membekas bagi Ihsaan. 

Akhirnya, ibu memutuskan untuk menutup buku lantaran udah ga kuat tahan ketawa lihat ekspresi Ihsaan yang begitu berapi-api ketuk-ketuk pintu. πŸ˜‚πŸ˜‚

Besok, ada kisah apalagi ya dari Ihsaan?

Ibu Ihsaan

Procrastinate, sesuatu yang harus diakhiri sekarang juga!

Alhamdulillah ala kulli hal. Berawal dari cuman “ah, pengen coba ikutan kulwap sabumi sama HSers. Biar paham gitu soal HS.” dan ternyata sekarang saya jadi beunta (terbuka mata-red) untuk banyak hal. Tapi ada satu hal yang paling mengena buat saya pribadi. Sebuah kosakata baru yaitu Procrastinate

Saya serasa ditegur sama kulwap tadi malam, udah berapa banyak waktu sih yang udah terbuang selama 28 tahun ini (jadi ketahuan umur dah πŸ˜‚) karena procrastinate?

Kita seringkali “ngulibek” (bergelut) dengan sesuatu yang udah jelas kita ga bisa tapi tetep keukeuh kita coba padahal besaran manfaatnya pun ga besar atau bahkan ga ada sama sekali. Dan itu karena apa? Karena seringkali kita  ga tahu apa yang jadi minat dan bakat kita. Oh my! Setua ini, saya baru sadar dan InsyaAllah belum terlambat. Saya merasa di waktu yang lalu seringkali terbawa suasana dan arus, sehingga pengenalan diri lebih mendalam seringkali distracted.  Dan jangan sampai dong hal ini terulang dan terwariskan ke anak cucu kelak. πŸ˜‰

Stop being a time waster, just do what you love and have passion in it. And create something that you can give the best in it!

Semoga quote dadakan dari saya itu bener ya sesuai grammar. 

Alhamdulillah, suasana di RS malam ini begitu syahdu. *Lirik ihsaan bobo anteng malem ini _ga pake atraksi 😁
Tangerang, 7 September 2017

Ibu Ihsaan, seorang Ibu yang masih meyakinkan diri untuk menjadi HSers 😊

Ibu Ihsaan

Cukup ini jadi yang terakhir

Qadarullah sampai usia Ihsaan 26 bulan, ini sudah kali ke -6 Ihsaan harus dirawat inap. Dan di antaranya 3 kali didiagnosa sakit bronchopneumonia. Saya sebagai ibunya seperti tidak pernah ambil pelajaran dari kasus sebelumnya. Saya marah dan kesal pada diri saya sendiri, rasanya saya ingin menasehati diri saya sendiri “sudah tahu anaknya rentan sama debu, kok bisa sih ga dijaga!”

Jujur, hal yang terpikirkan oleh saya adalah saya ga mau membentuk Ihsaan jadi anak yang begitu rentan sama debu. Masa iya, anak yang aktif seperti Ihsaan harus selalu bermain dalam rumah. Ah, fujiiii…kamu lupa kalau kondisi Ihsaan sedang tidak fit . Harusnya ada skenario khusus yang kamu persiapkan ketika anak sakit tapi tetap bisa aktif bergerak. Iya, saya akui ini salah saya.

Ketika orang-orang terdekat mulai berkomentar “Duh, kasian ya Ihsaan sakit terus” Atau berseloroh”perasaan Ihsaan dirawat terus ya?” Sampai ada komentar Ihsaan perlu direvisi namanya. 😫😫

Mendengar komentar-komentar itu, rasanya saya ingin membalas dengan jawaban “Boleh komentarnya digantikan dengan doa saja?” Atau mungkin mereka belum sempat untuk mencoba bertukar peran dengan saya yang akan cemas ketika anaknya terserang batuk pilek. Padahal bagi banyak orang “batuk pilek” adalah sakit yang wajar bagi anak-anak. Namun, bagi kami (saya dan suami) lebih mencemaskan. Karena batuk pilek pernah membuat anak kami kesulitan bernafas di malam hari hingga kadar oksigen dalam darahnya tidak bagus, dan sampai membuatnya kejang demam.

 “Ya Allah, Yaa Hayyu Yaa Qayyum…sesungguhnya kesehatan adalah kuasa-Mu. Berikan kesembuhan untuk Ihsaan. Dan semoga ini menjadi yang terakhir untuk melihat Ihsaan terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus menempel di lengannya. Aamiin yaa robbal alamiin”

Tangerang, 6 September 2017

Seorang ibu yang sedang mendampingi anaknya yang sedang tidur di RS

Menulis bagi saya menciptakan kelegaan ketika tidak ada lawan bicara yang tepat.

 

Ibu Ihsaan

Itu Tangan Kanan bukan Tangan Bagus


Bahasan kali ini sedikit membahas tentang adab. Lebih tepatnya pembiasaan adab yang sesuai bagi anak sejak dini.

Seringkali saya mendapati ibu atau pengasuh anak mengajarkan tentang adab makan berupa penggunaan tangan makan dengan menginstruksikan 

“Eh, nak…pakai tangan bagus ya…!”

Kemudian saya berimajinasi, tangan bagus yang seperti apa sih? Yang glowing-glowing gitu? πŸ˜€πŸ˜€

Atau ketika si anak menerima atau memberi sesuatu dari dan pada orang lain, celotehan “pakai tangan bagus ya!” biasanya terucapkan.
Kalau saya dalam menanamkan adab pada Ihsaan memilih menggunakan padanan kata “kanan dan kiri”. Kenapa? Ini lebih praktis lho, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui yaitu anak tahu tentang adab yang baik dan benar sekaligus tahu mana kanan dan kiri. Karena banyak sekali pembelajaran bagi anak yang membutuhkan pengarahan kanan dan kiri. 

Ketika kita membiasakan berujar “tangan bagus” untuk tangan kanan, apakah tangan kiri itu “tangan yang tidak bagus”? Menurut saya, tangan kiri itu punya peranan yang juga bagus kok namun peruntukannya berbeda dengan tangan kanan, misalnya ketika istinjak dalam adab thoharoh (bersuci). Dan bagian tubuh sebelah kiri digunakan terlebih dahulu ketika masuk ke kamar mandi, keluar rumah, melepas pakaian, dan sebagainya. Dengan mendahulukan yang kiri bukan berarti mendahulukan yang tidak bagus tetapi mengikuti apa yang menjadi tuntunan dalam beradab yang sesuai dengan ajaran islam.

Pembiasaan adab itu baiknya sedari kecil, dan semoga pembiasaan adab yang baik pada anak bermula dari pengajaran kita sebagai madrasah pertama mereka. Aamiin.

Ibu Ihsaan

Positioning Sebuah Maskapai

“Bukan L*on Air kalau ga delay…” seorang ibu berkomentar ketika saya diberitahu staff bandara bahwa jadwal penerbangan saya menuju Pekanbaru mengalami keterlambatan. Pernyataan tersebut pun kemudian diamini oleh penumpang yang lainnya. 

Lontaran semacam itu pun tidak hanya kali ini saya dengar. Suami ketika saya tanya kenapa dia terlambat sampai di Medan pun berkomentar “telat 30 menit sih dari jadwal, tapi kalau untuk L*on terbilang on time lah bu..”

Saya jadi penasaran dan googling, memang positioning maskapai ini apa sih? “We make people fly”. Hmmm…memang tidak ada yang salah sih, perkara terbangnya itu delay yang penting kan penumpang tetep terbang. Sederhananya gitu kali ya. Jadi kalau kita menggerutu ya memang mereka hanya ingin memposisikan di mata konsumen sebatas itu. Andai  tagline- nya berubah menjadi “We make people fly timely” , kita bisa sangat akan kecewa karena ternyata tagline yang mereka pasang sebagai bagian pemasaran “bertolakbelakang” dengan kinerja operasional mereka. 

Ibu Ihsaan, Ihsaan Amanullah Kusumah

Balance Bike: Sepeda Keseimbangan untuk Kemandirian Anak

Kemarin sore ketika ibu main sama ihsaan, “ihsaan, nanti kita di tangerang beli sepeda ya. Kan ihsaan udah punya tabungan.” Anaknya sih manggut-manggut aja. Kenapa sih ibu berkeinginan beli sepeda baru untuk ihsaan? Melihat kondisi sepeda roda tiganya yang sudah ah…tak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata. Sepeda roda tiga hadiah dari Aki sudah hampir tak berbentuk, rusak disana sini. Kalau harus flashback kenapa sebabnya jadi agak kesal. Saya dan suami termasuk yang ngerawat dengan (cukup) baik apa yang kami belikan untuk Ihsaan. Sadar, ketika waktu kami kecil seusianya belum senyaman ini terfasilitasi oleh orang tua kami. Jadi, ihsaan juga kami ajarkan untuk menghargai dan merawat barang miliknya. Saya malah berencana sepeda itu bisa diwariskan sampai dengan adik-adiknya kelak. InsyaAllah akan diganti yang lebih baik asal ikhlas. πŸ˜ƒ

Daaaan, balance bike ini sudah jadi salah satu inceran ibu dari beberapa waktu yang lalu. Selain yang mini scooternya kirana 😁 (cuman harganya itu lhooo, dekat sekali ke angka 2juta). Dan sebagai wanita yang telah mendampingi  lebib dari 4 tahun, sudah hapal deh tabiah ayah ihsaan yang ga bakal mau acc kalau belum tahu “manfaatnya”. Ibu juga belum berani ajuin proposal sebelum tahu apa manfaatnya dan HARGANYA. πŸ˜‚

Bagaikan mendapat durian runtuh, materi @rumahmainanak (salah satu komunitas yang ibu ikuti) membahas tentang balance bike doooong. Lengkap kap kap mulai dari manfaatnya sampai bocoran harganya.

Nih, biar ga penasaran apa manfaatnya ibu simpulkan dari beberapa poin yang ibu pahami.

1. Anak akan belajar keseimbangan, secara intuisi dia akan belajar untuk mengendalikan sepedanya meskipun tanpa pedal. Jadi disini koordinasi mata tangan, kaki dan badan juga akan terpacu dilatih

2. Membangun kemandirian anak dan kepercayaan dirinya, ketika anak masih sungkan mencoba, beri motivasi oleh orang tua

3. Bagus untuk keseimbangan otaknya (otak kanan dan otak kiri)

Poin-poin manfaatnya menjual sekali untuk jadi bahan mengiba ke ayah ihsaan. πŸ˜‚πŸ˜‚

Demikian, kurang lebih yang bisa ibu  tangkap. Baca materi mungkin bisa langsung di web nya rma yess. πŸ˜‰πŸ˜‰ Jazakunallah khayr tim rma yg sudah mencerahkan pikiran ibu. Kalaupun ga di acc, masih ada sisa uang lebaran ihsaan. Oh iya harganya itu untuk merek Breexed Rp 800,000. Katanya sih yang jadi inceran banyak orang itu Strider, tapiii hasil sorting harga di marketplace harganya sekitar 1,6 juta. Ada juga london taxi, duh kalau ini mah unyuuu seunyu unyunya. Harganya sekitar 1,2juta. 

Semoga balance bike yang jadi wishlist nya ibu ihsaan bisa terwujud ya. Aamiin. πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Ayah Ihsaan

Masih punya budget? Jangan lupa cek #pricetag !

Sore itu, tanpa ada agenda yang urgent (bagi saya) ayah ihsaan ajak kami untuk ke i-plug. Soalnya handphone dia udah bopeng parah, buah hasil rasa ingin tahu ihsaan tentang “bagaimana suara hp ayah kalau terjatuh” hmmm…lugasnya dibanting ihsaan. 😁

Di tengah perjalanan, ayah ihsaan menyampaikan sesuatu “Bu, celana ayah bolong nih.” Saya hanya berkomentar kenapa dia ga cek sebelum pergi, ya sudah dengan terpaksa saya mengizinkan untuk beli celana setibanya di mall. “Yaudah yah, nanti beli yang bagusan biar endurance nya juga lamaan.”

Setibanya di CP (salah satu mall di Medan), ternyata ga ada i-plub atau i-box disana. Jadi ya tujuan kita yang utama beralih ke beli celana jeans ayah. Di luar toko kami melihat “Sale up to 50%”. Jarang banget kan brand satu ini kasih potongan sampai 50 persen.  

Beberapa langkah menuju pintu masuk, ayah ihsaan bertanya “Bu, budget dari ibu berapa?” Ya meskipun, uang semuanya ada di rekening suami, tapi suami ketika membeli barang akan minta izin budget sama saya. Lagian saya bisa track mutasi rekening doi, jadi ya memang lebih baik terbuka dari awal. Alhamdulillah suami typical yang hemat, beliau yang kalau ga saya dorong untuk belanja baju atau lainnya kadang lebih milih yang murah aja atau pake baju jatah dari kantor. πŸ˜‚πŸ˜‚ Padahal dia perlu apresiasi dirinya sendiri, intinya menghargai dirinya sendiri. Celana jeans yang beliau pakai saat itu pun sudah sempat ke tukang permak, tapi tetep aja sobek πŸ™ˆ

Balik lagi ke soal budget, saya menganggarkan hanya 500ribu. Nominal ini sudah 2 kali lipat dari harga celana yang biasa dia beli. “Tapi bu, kayaknya ga bakal dapet deh harga segitu.” Hmmm..iya juga sih ya dengan harga normal aja dibandrol 800ribuan, dan ini promonya up to 50% alias belum tentu semua dibandrol potongan harga bulat 50%. Saya hanya bilang, pokoknya setelah diskon ga boleh lebih dari segitu. Kejam ya kelihatannya? Tapi di hati saya bergumam “ya, kalau lebih dikit ga apa-apalah”

Dan ternyata, size celana besar udah pada sold out di jajaran celana yang didiskon 50%. Alhasil hanya celana dengan harga normal yang bisa dibeli. Kemudia saya bantu memilih, dan tentunya sambil saya intip-intip. “Oh, harganya ada yang 600ribu kurang, ini ada juga yang 800 ribu.” Saya masih mentolerir harga segitu. Habisnya celana jeans l*is yang harganya 250ribuan (setelah diskon) hanya bertahan setahun saja. Jadi saya memperhitungkan beli celana jeans ini sebagai investasi, biar ga boros. 😁😁😁

Akhirnya suami memilih sebuah celana yang memang belum pernah dia punya, dan katanya model terbaru. Setelah saya “okay” dengan pilihannya, berjalanlah kami menuju kasir. Saat proses pembayaran, sang kasir menyampaikan kalimat yang membuat kami berkeringat dingin, “iya kak, jadi totalnya xxxx juta” suami belum tergerak untuk mengeluarkan kartu atm nya sampai akhirnya sang kasir menyebutkan kembali nominalnya. Akhirnya ayah ihsaan pun berseloroh sambil tersenyum hambar “Bu, ini ibu aja yang gesek.” Dan saya membalasnya dengan kekehan yang dipaksakan sembari keringat dingin terus mengalir. #efekdrama

Setelah menenteng jinjingan berisi celana jeans yang harganya hampir 5 kali lipat dari budget celana biasanya, kami pun tertawa-tawa. “Yah, itu seriusan yah harganya?” Dan kami pun melanjutkan perbincangan ini di mobil. 

I: “Yah, ini bener harganya segitu?” Sambil saya mengecek price tag nya. Dan memang benar harganya Rp 1,***,**** ditambah uang parkir jadi tembus di angka Rp 1,2**,***. Saya masih terheran-heran kenapa bisa ini terjadiiiii…

I:” memangnya ayah ga ngecek dulu ya harganya?”

A: ” Kirain ayah, udah lolos hasil screening ibu makanya ibu izinin. Dan memang ayah tadi ga ngecek juga lagi bu.” 

I:”Ibu pikir harganya sama celana yang ayah pilih juga. Sekitar 800an. Ini kok tembus angka 1 juta sih yah.” Ibu benar-benar menyesal. 😭😭😭

I:” kenapa ya kok nyesek banget? Bapak yang di belakang kita kayaknya santai banget ya pas gesek kartunya?”

A:” karena kita pakai debit card bu, jadi langsung berasa deducted nominal di tabungan. Sedangkan bapak yang tadi kan pake credit card.”

Hmmm..benar juga sih, tapi ibrah dari kejadian hari itu adalah set budget yang sesuai dengan kemampuan, dan jangan lupa untuk selalu memeriksa #pricetag pada barang yang akan dibeli. Doa lainnya semoga itu celana awet minimal 5 tahun ya. Aamiin yra. 😐

πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Ihsaan Amanullah Kusumah

#celotehihsaan 25 bulan

“Yah,  kok ihsaan cerewet banget  ya?” 

“Lah, dia lebih seringnya sama siapa? “jawab suami lempeng

Mungkin di usia lebih dari 24 bulan ini ihsaan sedang terjadi ledakan bahasa. Sekarang ihsaan sudah bisa merangkai kalimat yang terdiri dari 3 susunan kata. Walaupun jadi makin bertambah kosa kata yang belum kami pahami selaku orang tuanya. Kami biasanya akan minta maaf ketika kami sudah berusaha menebak kata yang ihsaan ucapkan tapi masih belum tepat juga.

Hal yang mencolok dari kemampuan berkomunikasi ihsaan di usia 25 bulan ini adalah ihsaan sudah mulai bertanya “ibu, apa nih?”, berkomentar “ih kotor!”,”wow, gelap sekali!” , memberikan instruksi “Yah, duduk sini!”, “Bu, sini main sama ihsaan!”, meminta sesuatu “Ayah, beli iim (ice cream) di alfah (alfamidi maksudnya), melarang “jangan ibu! Ibu duduk bawah” dan lebih ekspresif dalam menunjukan raut wajah.

Saya dan suami merasa bahagia sekali bisa melihat perkembangan ihsaan sejauh ini. Semoga kami senantiasa dibimbing Allah swt untuk bisa menjadi orang tua yang shalih, sehingga input yang kami berikan kepada ihsaan juga bisa membentuknya menjadi muslim yang shalih. Aamiin yaa robbal alamiin.

Ibu Ihsaan, Ihsaan Amanullah Kusumah, Uncategorized

Serunya si kecil bereksplorasi di Dancow Kidtropolis

Akhir pekan kemarin menjadi moment yang menyenangkan bagi ibu dan ihsaan. Karena apa? Karena Dancow Kidtropolis hadir di Medan. 

Dancow Kidtropolis yang nama event lengkapnya “Nestle Dancow Explore Your World” bener-bener bikin ibu sadar deh betapa pentingnya peran sebagai orang tua bagi tumbuh kembang si kecil. Hal yang paling “ngena” bagi saya sebagai ibu yang masih dikit banget ilmunya adalah poin yang disampaikan oleh para pembicara yaitu psikolog anak Ibu Ratih Ibrahim, dokter spesialis tumbuh kembang anak dr. Bernie Endyarni Medise, SpA (K) dan senior brand manager Dancoe Riza Nopalas bahwa untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak itu diperlukan tiga hal, yaitu; nutrisi, stimulasi dan cinta ayah bunda.

Ibu ratih ibrahim yang mengawali talkshow katanya bisa lho menerawang perasaan si kecil bahagia atau tidak dari ekspresi wajah si kecil. Saya langsung kepikiran “Duh, ihsaan bahagia ga ya punya ibu kayak saya.” Huhuhu…secara yang dicariin kalau lagi ga minta mimi itu ayahnya. #selftalk πŸ™ˆ
Dari sini saya musti introspeksi diri nih, apa saya udah ngasih sepenuhnya cinta pada Ihsaan. *mellow deh 

Menurut beliau, pada masa eksplorasi si kecil harus didukung oleh cinta ayah dan bunda berupa memberikan kesempatan dan melepas si kecil untuk bereksplorasi sendiri sehingga si kecil dapat berani dan mandiri dan kesempatan mereka untuk belajar hal-hal baru untuk mengembangkan dirinya semakin terbuka.

Poin kedua, nutrisi. Si kecil yang sedang dalam masa pertumbuhan perlu asupan nutrisi yang optimal. Nah, ini kaitannya dengan poin ketiga yaitu stimulasi. Karena anak akan ada fasenya untuk berkembang, dan hal lain yang diperlukan selain nutrisi adalah stimulasi dan hal ini akan si kecil banyak peroleh melalui eksplorasi. Poin 2 dan 3 menurut saya berkaitan sih, karena ternyata seringkali orang tua (termasuk saya) yang masih punya stigma bahwa kalau anak kebanyakan eksplorasi di luar rumah bakal gampang sakit, demam, batuk, pilek dan kekhawatiran lain-lain. Padahal kalau nutrisinya tercukupi, sistem imunitas si kecil juga akan baik dan si kecil akan lebih siap untuk bereksplorasi langsung di alam.

Seakan menjawab kegundahan para orang tua yang masih “parno” kayak saya, Dancow tepat pada acara Kidstropolis akhir pekan yang lalu (4-5 Maret 2017) meluncurkan produk ter-anyarnya yaitu Dancow excelnutri + yang mengandung Lactobacillus rhamnosus tiga kali lipat lebih tinggi dari sebelumnya. Apa sih manfaatnya? Lactobacillus rhamnosus ini yang merupakan bakteri baik dapat membantu menjaga saluran pernafasan dan saluran cerna si kecil. Menjaga asupan bakteri baik seperti ini sangat penting karena tubuh yang terlindungi menjadi fondasi fundamental untuk mendukung proses belajar dan pertumbuhan fisik si kecil. Jadi, ketika si kecil sudah terlindungi dari dalam, seharusnya kita sebagai orang tua tidak akan ragu lagi untuk berkata “IYA BOLEH” pada si kecil untuk bereksplorasi demi mengoptimalkan tumbuh kembangnya. 

Tagline IYA BOLEH ini memang sangat ditekankan pada acara Nestle Dancow Explore Your World kemarin, makanya di setiap zona bermain ayah bunda yang mendampingi si kecil diminta menyatakan IYA BOLEH sebelum si kecil bermain. Acara ini dilengkapi 4 zona bermain yaitu Art Center dengan aktivitas hand painting dan storytelling, Central park yang dilengkapi dengan teknologi augmented reality, smart city dimana si kecil bisa berkreasi dengan setumpukan lego (ini sih surga banget buat ihsaan) dan yang terakhir play park yaitu zona yang sangat mengasah motorik kasar si kecil. 

Ihsaan bermain di play park

Eittsss… saya mau kasih info tambahan juga ya, bahwa keseruan acara Dancow Kidstropolis ini tidka hanya di Medan, tapi masih ada 4 kota besar lainnya yang akan dikunjungi yaitu Surabaya, …… agar ayah bunda tidak ketinggalan informasinya, gabung aja di fanspagenya Dancow Parenting Center.